Between Money, Succes and You

What hapent About it,

Ribuan  buku telah ditulis oleh orang-orang yang telah sukses atau oleh penulis yang mempelajari kiat sukses orang orang hebat, tentang bagaimana cara menjadi kaya dan sukses. Setiap tahun, jutaan orang telah membeli dan membaca buku-buku semacam itu, namun mengapa tidak… semua mereka menjadi jutawan yang sukses?

Beberapa orang diantara kita menjadi jutawan dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan lainnya tidak. Apakah perbedaan yang membuat seseorang menjadi sukses dan yang lain tidak? Sesungguhnya perbedaan mereka hanya sedikit. Untuk bisa sukses dan kaya lebih cepat, hanya diperlukan perubahan dan perbaikan pada cara berpikir dan berprilaku, tentang bagaimana cara anda mendeteksi dan mengelola kesempatan, dalam program aksi memperoleh uang, dan dalam cara anda mengelola uang.

Sukses bukanlah pembawaan lahir. Strategi sukses bukanlah kualitas genetika yang dimiliki oleh hanya segelintir orang. Ray Kroc, pendiri McDonald’s Corporation tidaklah dilahirkan dalam keadaan kaya. Ia memerlukan motivasi, hasrat, disiplin, dedikasi dan persistensi untuk sukses. Simaklah apa yang ia katakan, “”I commit to being the very best at what I do.” Untuk sukses, kita harus keluar dari comfort zone dan status quo, serta berhenti mencari alasan untuk tidak bertindak, dan menempatkan diri kita kepada suatu situasi dimana kita tidak ada jalan balik kecuali maju, istilahnya, “Burn the bridge behind you!”

Jika anda mempertaruhkan hasrat dan impian anda kepada resiko dan mempersiapkan diri anda sedemikian rupa untuk bertanding dan berjuang, anda akan siap untuk menangkap setiap peluang yang melintas. Pertaruhkan hidup anda untuk menjadi pemenang. Ingatlah bahwa orang orang yang berdalih bahwa kondisi ekonomi atau politik masih buruk untuk berusaha, atau salesman yang mengeluh bahwa bisnis masih lesu untuk mencapai target, adalah orang-orang marginal. Juga orang yang mengeluh bahwa kesehatannya atau usianya, atau jenis kelaminnya tidak memungkinkan untuk berjuang meraih sukses, adalah juga golongan marginal. Anda bertanggung jawab atas hidup dan ‘nasib’ anda sendiri. Adalah pilihan anda untuk memilih bertindak atau berdiam diri.

Ambillah tanggung jawab dan resiko untuk sukses. Coba bayangkan, apakah jadinya jika Michael Jordan memilih untuk bersantai minum kopi dan merokok ketika harus berlatih untuk pertandingannya? Tolaklah keadaan atau prilaku yang demotivatif.  Di dalam merealisir tujuan anda, selalulah tanyakan diri anda, “Can I?”, dan lanjutkan dengan, “How can I?”. Daripada mempertanyakan “Apakah hal itu mungkin bagi saya?”, lebih baik mempertanyakan, “Bagaimana cara saya menjadikannya mungkin?!” Logikanya, apa saja yang bisa anda pikirkan, akan bisa anda capai. Hal itu dimulai dari apa yang anda pikirkan, dan apa yang anda pilih untuk dilakukan!

Saya menantang anda sekarang untuk memikirkan hal-hal hebat yang sebelumnya tidak berani anda pikirkan. Saya tantang anda untuk melakukan apa yang anda inginkan. Sehingga setelah hari ini, jika ada orang yang bertanya, “Apa kabar?”, maka anda akan secara mantap menjawab, “Excellent!”, atau “Perfect!”, atau “Marvellous!”, atau “Superb!”. Pernyataan seperti itu akan mempunyai beberapa dampak positif, bahwa pertama-tama hal itu akan mempengaruhi pikiran sadar maupun bawah sadar anda yang akan memprogram citra diri bahwa anda adalah orang yang excellent, perfect, marvellous, dan superb.

Kedua, hal itu akan menunjukkan kepada orang lain, pribadi macam apakah anda itu, bahwa anda adalah orang yang nyaman dan bangga terhadap diri anda sendiri, bahwa anda adalah orang yang ‘on the right track’, bahwa anda sedang menjalani kehidupan yang berkemenangan.

Ketiga, hal itu akan memikat dan menarik rasa hormat dan kagum orang kepada anda. Ketika orang berpikir bahwa anda adalah orang yang percaya diri dan yakin terhadap pencapaian tujuan hidup anda, serta terkesan mampu menguasai berbagai macam keadaan, orang akan ingin berdekatan dengan pribadi sukses seperti itu. Komitmen kecil akan membimbing kearah komitmen yang lebih besar.

Jika anda menghadapi rintangan ketika merealisir tujuan hidup anda, dan ada orang yang bertanya tentang bagaimana keadaan anda, jawablah, “Getting better all the time.” Karena pikiran anda selalu bergerak kearah ide yang paling dominan, maka ia akan menemukan cara untuk membuat keadaan anda sungguh menjadi lebih baik setiap waktu. Tidak perlu tegang atau cemas, hadapilah semua perkara dengan tenang dan senang. Hadapilah semua kesukaran anda sebagai tantangan, puzzle yang mempunyai solusi. Programlah pikiran sadar maupun bawah sadar anda dengan prosperity belief, kepercayaan bahwa anda berhak untuk sukses dan makmur, serta anda pasti meraih kesuksesan dan kemakmuran, sehingga hal itu menjadi prosperity consciousness bagi anda, yang akan menghalau segala macam ketakutan akan gagal maupun kekecewaan atau keputusasaan menghadapi kegagalan.

Karena anda tidak bisa memiliki prosperity belief dan scarcity belief secara bersamaan, maka anda harus memilih: Anda mau terus percaya akan kesuksesan, terus bergairah memperjuangkannya, atau anda mau memelihara kecemasan dan ketakutan akan kegagalan dan berhenti berjuang?  Sekalipun secara logis semua orang akan memilih untuk mempunyai prosperity consciousness, karena lebih menjanjikan kesenangan, namun hal itu bukanlah terjadi secara kebetulan, melainkan harus anda pilih dan tentukan sendiri. Anda harus menciptakan dan memprogram (atau memprogram ulang) pikiran bawah sadar anda bahwa anda berhak dan berkewajiban untuk menjadi sukses dan makmur; sebab jika tidak demikian, scarcity consciousness akan menghambat kemampuan anda untuk sukses, ketakutan dan kecemasan anda akan kegagalan akan menutup mata anda untuk melihat kelimpahan dan peluang yang ada didunia ini.

Ide bahwa kita mempunyai potensi yang tidak terbatas untuk menjadi apa saja atau mencapai apa saja sebatas yang bisa kita bayangkan, merupakan hal yang menggairahkan. Ditambah dengan adanya free-will bagi kita untuk bebas memilih bentuk pikiran, kepercayaan dan tindakan kita. Namun sayangnya, saya menemukan bahwa banyak orang takut untuk menjadi kaya dan sukses. Sebagian dari dirinya memang ingin kaya tentunya, namun sebagian lainnya lagi merasa bahwa hal itu adalah salah, atau mereka berpikir bahwa mereka harus membayar terlalu mahal untuk menjadi kaya dan sukses.

Beberapa pernyataan yang sering saya dengar adalah, “Saya akan harus bekerja sangat keras untuk menjadi kaya, dan itu bisa mengorbankan keharmonisan rumah tangga saya,” atau “Saya akan harus menipu dan menghalalkan segala macam cara untuk kaya dan sukses yang bertentangan dengan nilai kepercayaan saya,” atau “Uang bukanlah segalanya,” atau “Biar miskin asal bahagia,” atau “Kalau saya mempunyai uang banyak, akan ada orang lain yang berkekurangan,” dan pernyataan lain yang sejenis. Jika anda percaya bahwa menjadi kaya akan menelantarkan keluarga, atau menjadi tamak, atau kehilangan kebahagiaan, atau bekerja terlalu keras, maka bagaimanapun hebatnya anda menginginkan uang, maka akan ada bagian diri anda yang akan menentang dan menggagalkannya. Dengan demikian, maka anda menjadi musuh bagi diri anda sendiri, yang menyabot peluang untuk menjadi kaya dan sukses secara finansial, karena secara filosofis, fondasi hidup anda rapuh. Anda mengidap penyakit dualisme dengan basic belief system yang kusut!

Secara analogis: Jika hendak membangun rumah atau gedung kita memerlukan fondasi yang kuat, agar bangunan itu laik pakai serta aman terhadap berbagai macam kemungkinan buruk, demikian juga jika kita hendak membangun suatu lingkungan, apakah area industri ataukah area  wisata, diperlukan infrastruktur yang memadai seperti tersedianya sumber daya listrik, air, komunikasi, akomodasi, transportasi, bahan baku, tenaga kerja, sampai sarana pendukung lainnya yang relevan. Jika infrastruktur tidak memadai, maka pengembangan area tersebut akan terkendala dan berkemungkinan besar untuk gagal. Demikian juga dengan proses dan pengembangan kelimpahan finansial, pertama-tama diperlukan fondasi atau infrastruktur yang benar tentang uang, kekayaan dan segala dampaknya, yang kita namakan Prosperity Consciousness atau kesadaran akan kemakmuran, yang melibatkan Basic Belief System anda.

Dan di bawah ini saya akan mencoba untuk membangun fondasi atau infrastruktur prosperity consciousness dalam diri anda. Karena jika anda percaya bahwa uang itu buruk atau kurang penting, maka sampai kapanpun anda tidak akan mau berjuang all-out untuk mendapatkannya secara berlimpah. Namun jika anda percaya bahwa uang itu baik berguna dan layak untuk didapat, maka anda akan dengan senang hati untuk berjuang dalam mendapat dan mengakumulasikannya.

Dibawah ini saya telah menulis dua paradox yang ekstrim tentang uang. Jika anda percaya bahwa uang dan kekayaan adalah nyaris segala-galanya yang dapat membuat kehidupan lebih ceria berbahagia, dan sebaliknya, bahwa kekurangan uang dan kemiskinan adalah sumber dan penyebab penderitaan dan ketidakberdayaan, maka anda berada pada jalur kelimpahan hidup yang benar. Namun jika tidak, maka ada yang keliru pada sistem kepercayaan fundamental dan prosperity consciousness anda tentang uang dan manfaatnya, sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu, untuk laik kaya.

What Money Can Buy Money can buy appetite as well as foods Money can buy self-esteem as well as nice clothes Money can buy jewelry as well as self-dignity Money can buy bed as well as sound sleep Money can buy medicine as well as health Money can buy house as well as home Money can buy education as well as intelligent Money can buy luxury as well as happiness Money can buy lover as well as love Money can buy friendship as well as an enemy Money can buy healthcare as well as lifelong Money can buy almost everything What Poverty Can’t Buy Poverty can’t buy appetite nor foods Poverty can’t buy self-esteem nor proper clothes Poverty can’t buy jewelry nor self-dignity Poverty can’t buy bed nor sound sleep Poverty can’t buy house nor home Poverty can’t buy education nor intelligent Poverty can’t buy luxury nor happiness Poverty can’t buy lover nor love Poverty can’t buy friendship nor enemy Poverty can’t buy health nor lifelong Poverty can’t buy almost anything (Johanes Lim)

Saya berharap bahwa anda mau bersetuju dengan saya bahwa uang adalah positif, baik, manis, indah, dan bermanfaat; sedangkan kemiskinan atau moneyless adalah negatif, pahit, suram, buruk, dan tidak berguna. Untuk mempermudah, maka saya akan memberikan uraian tanya jawab tentang beberapa isu mengenai uang yang seringkali dijadikan alasan untuk mentolerir kemiskinan, dan yang sering diajarkan orang secara turun temurun serta dianggap sebagai kebenaran. Semua ini saya maksudkan agar anda mau dan mampu menata ulang atau memprogram ulang kepercayaan dan pikiran bawah sadar anda tentang uang, kekayaan, kesuksesan dan kebahagiaan:

  1. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Jawaban:

Mengapa tidak? Jika yang dimaksud dengan kebahagiaan adalah peace of mind, rasa tentram, aman, sejahtera serta senang, bisa saja hal itu diberikan oleh produk atau jasa yang bisa dibeli dengan uang. Jika kita merasa susah hati, dengan uang kita bisa pergi shopping, atau travelling, atau party, sehingga merasa terhibur dan senang. Jika kita merasa tidak aman, maka dengan uang, kita bisa membeli perangkat security systems dan asuransi untuk melindungi assets kita, atau menyewa bodyguard untuk melindungi keselamatan diri. Justru sebaliknya, tanpa uang, kita nyaris mustahil untuk bisa berbahagia. Coba bayangkan, bagaimana pikiran bisa tentram dan damai jika kita tidak tahu apakah nanti sore bisa makan atau tidak karena tidak mempunyai uang? Bagaimana kita bisa senang jika besok pagi harus hengkang dari rumah kontrakan -tanpa tahu hendak tinggal dimana- karena sudah menunggak biaya sewa selama berbulan-bulan? Bagaimana kita bisa senang menyaksikan anak terbaring sakit tanpa mampu membawanya kedokter karena tidak punya uang? Kesimpulan saya: Sekalipun anda tetap bisa berbahagia dengan atau tanpa uang, namun secara logis empiris, kita akan lebih mudah berbahagia jika mempunyai cukup uang, dibandingkan dengan jika tidak mempunyai uang, bukankah demikian?

  1. Orang kaya itu serakah.

Jawaban:

Sebagian dari orang kaya memang serakah, demikian juga dengan orang yang setengah kaya, atau juga orang miskin. Keserakahan itu bukan disebabkan karena uang, melainkan merupakan sifat atau tabiat perseorangan yang bisa dilakukan oleh… orang disegala golongan. Banyak orang kaya yang saya ketahui mempunyai prilaku dermawan dan berbelas kasihan terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan. Mungkin karena orang kaya itu mempunyai kemampuan dan kesempatan lebih besar untuk berbuat amal, dibandingkan dengan orang miskin.

  1. Saya akan harus bekerja sangat keras, menelantarkan keluarga, dan membayar harga terlalu mahal untuk menjadi kaya.

Jawaban:

Memang ada sebagian orang yang bekerja sangat keras dalam mengejar kesuksesan sehingga menelantarkan keluarganya, dan itu sangat disayangkan dan tidak perlu terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa mereka kehilangan keseimbangan dan mengadopsi kepercayaan yang keliru seperti “Karena saya harus bekerja lebih keras untuk sukses, maka keluarga harus juga rela untuk terlantar”. Sekalipun ada orang kaya yang berkorban seperti itu, tidak mengindikasikan bahwa semua orang yang ingin menjadi kaya harus menelantarkan keluarganya. Banyak orang kaya yang justru semakin mempunyai cukup waktu dan sumber daya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dan menikmati kebersamaan. Sebaliknya lebih banyak saya jumpai orang yang menelantarkan keluarganya karena kekurangan uang. Suami dan istri harus bekerja membanting tulang hanya sekedar untuk survive. Anak-anak terlantar karena orangtuanya harus bekerja mencari nafkah. Dan hubungan mesra antara suami istri atau antara orang tua dan anak menjadi terganggu karena setiap hari mereka telah merasa kelelahan secara fisik dan mental. Bahkan menurut cerita, lebih banyak perceraian disebabkan karena kesulitan ekonomi dibandingkan dengan kemakmuran finansial. Mari kita renungkan dengan akal sehat, apakah kekurangan uang ataukah kelebihan uang yang lebih sering menyebabkan rumah tangga berantakan?

  1. Uang itu tidak rohani.

Jawaban:

Ini adalah kutipan yang diambil dari Alkitab, “Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan”. Jika menyintai uang lebih dari segala apapun juga, memang keliru. Atau menyintai uang tanpa mengerti bagaimana cara menggunakannya agar berguna bagi diri sendiri dan orang lain, adalah juga keliru. Namun uang adalah bentuk dari energi yang mempunyai potensi luar biasa untuk dipakai sebagai alat kebaikan. Tanpa uang, bagaimana kita bisa membeli dan menikmati kebutuhan hidup? Tanpa uang bagaimana kita bisa menolong orang yang berkesusahan atau yang lapar? Tanpa uang bagaimana kita membiayai aktivitas agama seperti membangun tempat ibadah, mencetak kitab suci, menyampaikan pesan agama, dan sebagainya? Jika uang adalah buruk dan tidak rohani, mengapakah Taurat, Alkitab dan Alqur’an menulis dan memuji tentang raja Salomo (Sulaiman), siapakah dia? Orang terkaya pada jamannya! Jadi jelas bahwa uang dan kekayaan bukanlah hal buruk, serta tidak ada relevansinya dengan masalah rohani atau tidak, melainkan ada sebab lain yang bersifat subyektif dan individualistik.

  1. Uang tidak bisa membeli cinta.

Jawaban:

Siapa bilang? Mitos diatas adalah ungkapan hati orang yang tidak realistis. Justru kenyataannya banyak sekali kasus orang patah hati karena percintaan yang gagal, atau perceraian dalam perkawinan, disebabkan karena kekurangan uang. Ketiadaan uang akan merupakan kendala atau bondage terhadap kebebasan dan mewujudkan keinginan hati. Coba anda bandingkan, enak mana: Berpacaran dengan hanya ‘makan angin’ dan dirubungi nyamuk, karena hanya bisa duduk-duduk ditaman umum, atau berpacaran sambil mengisi perut direstaurant mewah sambil menikmati musik hidup yang dibawakan oleh musisi kenamaan? Menurut anda, romantis mana: Pacar yang memberikan hadiah ulang tahun sekuntum bunga mawar yang dipetik dari taman umum, atau seperangkat perhiasan berlian? Jika anda bisa memilih, manakah yang lebih baik: Menikah ala kadarnya dengan pesta kecil menggelar tenda didepan gang MHT didepan rumah kontrakan anda tanpa honeymoon, ataukah resepsi pernikahan megah dihotel mewah dengan ribuan undangan, dan segera setelah itu berangkat honeymoon ke Paris yang adalah “The city of love” dan menonton “Lido Show”?. Menurut saya, cinta akan bisa tumbuh lebih subur dalam kemakmuran, dan akan entrophi dalam kemiskinan. Meskipun awalnya mungkin cinta monyet akan membutakan mata hati ABG (anak baru gede) sehingga mau menyintai orang yang madesu (masa depan suram), sehingga timbul istilah, “Jika cinta sudah melekat, jigongpun terasa coklat!”, namun dengan berjalannya waktu, kemiskinan dan penderitaan hidup akan mengikis cintanya, dan mencelikkan matanya bahwa “Cinta saja tidak akan bisa mengenyangkan perut!”. Kisah lainnya, sekalipun seorang wanita awalnya menikah dengan pria yang tidak dicintainya, namun dengan berjalannya waktu, perhatian dan kasih sayang serta limpahan kemewahan dari suaminya akan menumbuhkan cintanya. Apakah lagi yang diharapkan oleh wanita kecuali dicintai dan dilimpahi kemewahan?

  1. Uang tidak bisa membeli persahabatan.

Jawaban:

Bisa saja benar, jika anda adalah orang yang meritokratis, yang sekalipun susah tidak mau menyusahkan orang lain, sehingga sahabat anda tidak kuatir untuk berdekatan dengan anda, karena tidak akan dirugikan. Namun jika karena kesusahan finansial anda menjadikan sahabat anda sebagai ‘tong sampah’ tempat anda menumpahkan kekesalan dan kesumpekan hati, maka cepat atau lambat sahabat anda akan enggan berdekatan dengan anda, mengapa? Sebab setiap manusia pasti mempunyai persoalan dan kesusahan hidup sendiri, jadi seberapa lama sahabat anda mau bertahan menerima beban extra kesusahan hati dari anda? Dan kehilangan persahabatan akan dipercepat jika anda mulai sering meminjam uang tanpa bisa membayar kembali. Sebaliknya, jika anda sukses secara finansial, anda akan mempunyai banyak sahabat, minimal mereka tahu bahwa anda tidak akan menyusahkan mereka, dan kedua, mereka berharap bisa mendapat keuntungan -moril ataupun materiil- dengan menjadi sahabat anda. Dengan kelimpahan finansial, kawan yang telah menjadi lawanpun akan mau berbaikan dengan anda kembali. Istilah “a friend in need is a friend indeed” hanya manis dan benar sebagai pepatah, atau maksimal hanya berlaku untuk sementara, namun jika anda terus menerus “in need”, maka jangankan sahabat, saudara kandung, atau istri atau suami andapun berkemungkinan hengkang meninggalkan anda! Kalau anda membaca buku saya “Manajemen USA (untung saya apa)”, anda akan mengerti bahwa segala macam interrelasi diatas muka bumi ini -baik antar manusia, manusia dengan Tuhan, bahkan antar makhluk- azasnya adalah manfaat. Jika saling bermanfaat, hubungan itu akan harmonis dan berlangsung lama; sebaliknya jika tidak, akan berlangsung singkat, atau tidak pernah berlangsung.

  1. Uang tidak bisa menghindarkan kita dari maut.

Jawaban:

Memang tidak, apalagi kemiskinan. Masalah mengapa kita lahir dan kapan kita mati, itu memang diluar kekuasaan kita sebagai manusia. Namun secara logis empiris, orang yang banyak uang akan lebih panjang umur dibandingkan dengan orang yang tidak punya uang. Untuk transportasi, orang kaya akan bisa naik mobil yang relatif lebih aman. Sekalipun terjadi tabrakan dengan sesama mobil, relatif akan lebih kecil kemungkinannya untuk merenggut nyawa karena menggunakan safety belt dan terlindungi oleh body kendaraan, dibandingkan jika anda naik sepeda dan bertabrakan dengan mobil, hampir bisa dipastikan nyawa anda akan melayang dan berhenti menjadi makhluk hidup. Contoh lain adalah, dengan memiliki cukup uang, anda bisa membeli makanan atau makanan kesehatan (health-food) untuk menjaga diri anda tetap sehat, awet muda, dan panjang umur. Namun jika tidak punya uang, anda makan hanya sekedar untuk kenyang dan agar tetap hidup, dengan menu yang berkemungkinan kurang gizi, sehingga anda rentan terhadap serangan penyakit, dan menjadi nampak lebih tua dari usia biologis anda, dan juga berkemungkinan untuk lebih cepat mati tentunya, jika tidak ditangani dengan benar. Jika punya uang, sekalipun anda jatuh sakit, anda bisa segera pergi berobat dan mendapat perawatan yang terbaik dengan bantuan peralatan medis yang canggih -baik didalam maupun keluar negeri-, sehingga anda berkemungkinan besar untuk lebih cepat sembuh dan terhindar dari maut. Sebaliknya, jika anda jatuh sakit dan tidak punya uang, maka anda harus tetap mencari nafkah untuk membiayai hidup yang akan memperparah penyakit anda. Karena tidak segera diobati, penyakit yang ringan bisa menjadi berat, menjadi kronis, dan bisa merenggut nyawa; seyogyanya -menurut akal sehat, dan bukan menurut takhayul atau filosofi agama- anda masih bisa tetap hidup, namun karena ketidakberdayaan membiayai pengobatan, anda bisa mati sebelum waktunya.

  1. Uang tidak bisa membeli sorga.

Jawaban:

Memang tidak, karena masalah sorga -menurut agama- bukanlah urusan kaya atau miskin, melainkan masalah amal ibadah dan ketakwaan kepada TUHAN. Namun kalau kita hitung secara rasional, kekayaan akan lebih memampukan dan memberikan peluang jauh lebih besar bagi kita untuk berbuat baik, beramal ibadah, dan melayani pekerjaan TUHAN maupun sesama, dibandingkan jika kita tidak punya uang. Orang yang berkekurangan akan merasa rendah diri dan kecut hati untuk menasehati dan menolong orang lain yang berkesusahan, karena dua hal: Pertama, takut dilecehkan orang dengan ungkapan, “Jika anda penyembuh, mengapa sakit? Obatilah diri anda sendiri!”. Yang kedua adalah kegetiran hati, “Problem saya sendiri saja sudah membuat pusing tujuh keliling, mengapa harus mencari beban tambahan?”. Jadi menurut saya, kita akan lebih bisa berbuat baik dan berguna bagi kehidupan orang banyak, jika kita mempunyai uang, dibandingkan jika kita berkekurangan. Dan jika itu dinilai sebagai amal ibadah yang berguna bagi pahala sorga, maka sekalipun kita tidak boleh mengatakan mampu membeli sorga, namun kita bisa ‘berinvestasi’ untuk bekal kehidupan akherat yang lebih baik, apakah bukan demikian? Mohon dimaklumi, dan janganlah salah paham. Saya bukanlah orang congkak yang sok hebat, atau peleceh sesama manusia yang berkekurangan. Justru sebaliknya, saya sangat mengasihi dan berempati terhadap saudara-saudara saya yang kurang berbahagia, yang hidup didalam berkekurangan, sehingga saya menulis artikel ini. Saya belum bisa menolong mereka secara materi, karena jumlah mereka sangat banyak, namun saya berharap bahwa dengan membaca tulisan ini, kehidupan banyak orang akan bisa diubah menjadi lebih baik, dan pembaca yang telah mendapat manfaat itu akan juga bisa mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada orang lain lagi sehingga, secara tidak langsung, saya bisa menjangkau sebanyak mungkin orang dari keterbatasan saya. Perlu saya tekankan bahwa yang saya benci dan ingin hajar adalah kemiskinan, dan bukan orang miskin! Saya memang sungguh membenci kemiskinan, karena ia membuat hidup menjadi melelahkan, membosankan dan mengenaskan hati! Kemiskinan adalah bondage seperti penjara, yang membelenggu kebebasan kita untuk berekspresi dan hidup merdeka. Itulah saudaraku pesan yang ingin saya sampaikan. Sebab tanpa Prosperity Consciousness dan kebencian akan kemiskinan, anda akan kurang mau berjuang mati-matian untuk menjadi kaya, karena dihambat oleh ‘reasoning’ (pencarian alasan atau berdalih atau mengkambinghitamkan sesuatu) yang dilakukan oleh pikiran bawah sadar anda, untuk mentolerir status quo, keadaan marginal dan bahkan kemiskinan. Jadi perlu saya tegaskan sekali lagi bahwa  ANDA MEMPUNYAI HAK UNTUK MENJADI KAYA

Menjadi kaya memungkinkan anda mengekspresikan diri anda lebih lagi secara fisik maupun spiritual. Anda bisa memberi lebih kepada diri anda sendiri, sehingga anda dapat bertumbuh lebih baik dan lebih kuat untuk mampu memberi kepada orang lain. Tidak ada manfaat spiritual yang berguna dalam kemiskinan. Allah menyintai orang miskin, benar. Tapi Dia juga menyintai mereka yang memberi makan orang miskin, yakni orang kaya. Semakin kaya anda, maka semakin bisa anda memberi lebih banyak. Anda bisa memberikan harta maupun waktu anda. Orang miskin tidak dapat memberikan harta. Orang miskin tidak bisa memberi makan orang lain maupun memberi tumpangan. Hanya orang kaya yang bisa. Orang kaya bisa memberi kesejahteraan bagi keluarga mereka maupun bagi masyarakat, bahkan kepada dunia.

Anda berhak menjadi pemberi dan bukan penerima. Anda berhak untuk menjadi kaya. Jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk memperbaiki diri. Anda bisa membiayai pendidikan formal, mengikuti kursus atau seminar, membeli buku-buku. Jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk menjadi ayah atau teman, atau kekasih atau pemimpin yang lebih baik. Sekalipun membuat kesalahan, jika anda kaya, anda mempunyai sumber daya untuk belajar dari kesalahan dan memperbaikinya dengan sumberdaya yang ada. Menjadi kaya memberikan kesempatan dan kebebasan bagi anda untuk menjadi lebih baik dalam hampir segala hal. Menjadi kaya memungkinkan anda menjadi lebih sehat. Orang miskin harus makan apa saja yang ada termasuk junk-food karena mereka tidak mempunyai cukup uang dan kebebasan waktu, sedangkan orang kaya mempunyai pilihan terhadap apa yang mereka ingin dan perlu makan, dengan merekrut juru masak yang pandai, dengan bahan makanan non-organik.

Orang kaya juga mempunyai waktu dan fasilitas untuk berolahraga dan merekrut personal trainer atau pemijat kesehatan. Menjadi kaya, memungkinkan anda menjalani kehidupan yang lebih sehat dan lebih stress-free Menjadi kaya memungkinkan anda menjadi lebih cerdas dan berwawasan luas. Orang kaya menjadi lebih kaya karena mereka terus belajar. Anak-anak mereka mampu menjadi kaya karena mendapat pendidikan yang cukup. Dan pendidikan yang baik memerlukan uang dan waktu. Orang kaya membaca buku, mengikuti seminar, melakukan perjalanan dan menemukan hal baru yang menarik. Dan semua aktivitas yang memberi nutrisi kepada intelek dan wawasan itu memerlukan uang dan waktu, yang tidak bisa diperoleh jika anda tidak punya uang.

Itulah sebabnya orang miskin akan cenderung tetap miskin, bahkan sampai keanak cucu mereka, sedangkan orang kaya akan bertambah kaya, bahkan bisa sampai keanak cucu mereka. Menjadi kaya memungkinkan anda mengembangkan keluarga yang kuat dan harmonis. Orang kaya mempunyai waktu dan sumber daya untuk diberikan kepada keluarganya. Mereka bisa memberikan biaya untuk pendidikan disekolah yang terbaik. Mereka dapat membayar guru terbaik untuk mengajar seni. Mereka dapat membelikan produk edukasi berteknologi tinggi. Mereka dapat mengajar anaknya tentang marine biology sambil berenang dengan dolphin di Sea World. Mereka dapat berlibur kemana saja bersama keluarga. Dengan uang, mereka dapat memberikan pengalaman yang menarik dan bermanfaat yang akan membentuk pola pikir positif dan masa depan cemerlang anak-anak mereka.

Sedangkan, orang miskin tidak mempunyai sumber daya dan waktu untuk melakukan semua itu, karena mereka harus bekerja keras membanting tulang hanya untuk sekedar survive, sehingga anak-anak mereka hidup terlantar Menjadi kaya memungkinkan anda memberi kontribusi dan dampak positif  kepada dunia.  Mother Teresa bukanlah orang miskin. Organisasinya mempunyai dua buah pesawat jet pribadi dan memiliki dana lebih dari 500 juta dollar. Dan ia menggunakan kekayaan tersebut untuk menolong banyak orang dan membuat dampak positif kepada dunia. Bill Gates juga telah memberikan dana amal milyaran dollar, dan mendirikan yayasan pendidikan sendiri, ia dermawan, dan ia sangat kaya. Anda pun bisa menjadi kaya. Anda mempunyai tanggung jawab sosial untuk menjadi kaya. Seberapa kayakah anda seharusnya? Sekaya mungkin selama anda bisa.

Pohon tidak akan bertanya seberapa tinggi ia akan tumbuh, melainkan ia tumbuh saja setinggi mungkin selama ia bisa. Be rich so you have no limits. Poverty is like a jail, a bondage for your freedom and happiness! Pada akhir sesi, saya memberikan beberapa tips untuk memperbaiki keadaan kehidupan masyarakat di Negara kita yang tercinta ini, baik untuk mengentaskan praktek KKN, maupun strategi untuk pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran yang lebih cepat. Akhir kata, tulisan ini hanya akan tetap menjadi konsep atau ide, jika anda tidak berupaya untuk menerapkannya. Kunci dari setiap perubahan dan perbaikan hidup adalah TINDAKAN dan SEKARANG  “Take Action right now”.  Karena itu saudaraku, permintaan saya ialah, jika anda sudah mengerti dan percaya akan penjabaran buku ini, DO IT NOW! Jangan menunggu hingga besok apalagi lusa, karena “Tomorrow is nothing, NOW is everything and our BEING!”

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *

*
*